Laman

Jumat, 07 September 2012

Selamat Datang Calon Sosiolog Masa Depan

Kata orang bijak, hidup adalah panggung sandiwara. Panggung sandiwara juga adalah salah satu judul lagu dari grup musik God Bless yang bercerita tentang hidup. Dalam hidup, kita sering mamakai "topeng" ketika kita bergaul dengan sesama. Kita mencoba menyembunyikan betapa rapuhnya diri kita sebenarnya dihadapan orang lain. Kalau bahasa sosiologi,yang disetuskan oleh Erving Goffman, kita "berdramaturgi". Hidup adalah drama dan kitalah aktor yang berperan di dalamnya. Frontstage itu menampilkan kehidupan sosial kita sehari-hari. Backstage-nya ketika kita mulai menjadi diri kita sendiri dan apa adanya. Pada backstage-lah kita sebenarnya dapat mulai menikmati hidup.

Nah, Buat kamu khususnya Mahasiswa Baru Sosiologi Fisip UR, kamu mungkihn sedang berada di fronstage, mengatur kesan atau membangun "impression manajemen" sedemikian rupa agar diterima di lingkungan dan teman-teman baru. Berusaha untuk nyaman di jurusan sosiologi, meski mungkin ada di antara kamu yang meneyembunyikan perasaan "terpaksa" atau "terjerumus" di jurusan ini. Tapi percaya deh seirng berjalannya waktu , kamu pasti akan merasa betah dan nyaman di lingkunganmu dan semakin menunjukkan siapa diri backstage kamu yang sebenarnya.


So, jangan takut berproses. Ini baru awal dari kesusksesan. Jangan takut menjadi diri sendiri karena hanya dengan itu kita akan menikmati hidup. Selamat berproses dan menemukan backstage kalian dengan cara kalian masing-masing.

Selamat Datang calon Sosiolog Masa Depan Bangsa :)

Minggu, 12 Februari 2012

Sociology On Futsal

"ALAY" menurut para ahli sosiologi

Alay tidakkjelas sebenarnya namanya apa makna dari "alay".Ada alah lebay ,anak melayu,anak kelayapan,dan bahkan yang menghubungkannya dengan anak JARPUL alias jarang pulang.Istilah alay tidak jauh beda dengan istilah istilah lain di kalangan anak muda yang suka tiba-tiba muncul kemudian populer dan di gunakan secara massal pula endingnya ilang lagi di ganti istilah populer lain yang baru nonggol. 

Kutipan pendapat Koentjaraningrat dalam mendefisinikan Alay ,"Alay adalah gejala2 yangterjadi di tengah-tengah pemuda dan pemudi indonesia yg ingin di akui statusnya di tengah-tengah temannya.Gejala ini akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakaian,skaligus meningkatkan kenarsisan,yang cukup menganggu masyarakat dunia maya(pengguna internet s3ejati seperti blogger dan kaskuser),Diharapkan sikap ini segera hilang,jika tidak akan mengganggu masyarakat sekita."

Pendapat Selo Soemarjan ngga jauh beda,"Alay adalah prilaku remaja Indonesia yg membuat dirinya merasa cantik,hebat,di antara yang lain.Hal ini sangt bertentangan dengan sifat rakyat Indonesia yg sopan snatun dan ramah.Faktor yg menyebabakan bisa melalui media TV,dan musisi dengan dandanan seperi itu."

 


Selasa, 10 Januari 2012

Tanoto Foundation: National Championship Scholarship 2012/2013

Tanoto Foundation kembali membuka peluang beasiswa strata 1 (S1) dan strata 2 (S2) kepada putra/putri calon pemimpin bangsa yang berprestasi namun memiliki keterbatasan finansial untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Pendaftaran National Champion Scholarship 2012/2013 berlangsung pada 10 Desember 2011 – 31 Januari 2012 dengan melengkapi registrasi online disini
Persyaratan umum calon penerima beasiswa adalah sebagai berikut:
A. PROGRAM SARJANA STRATA SATU (S1)
  1. Warga Negara Indonesia
  2. Telah terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu universitas berikut:
    • Institut Pertanian Bogor
    • Institut Teknologi Bandung
    • Universitas Gadjah Mada
    • Universitas Indonesia
    • Universitas Jambi
    • Universitas Riau
    • Universitas Sumatera Utara
  3. Usia maksimum 21 tahun pada 31 Juli 2012
  4. Minimum IPK = 3,00 (skala 4,00). Bagi mereka yang baru duduk di tahun pertama Perguruan Tinggi, minimum nilai rata-rata raport kelas 3 SMU = 8,00 (skala 10)
  5. Membutuhkan dukungan finansial
  6. Memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian serta komitmen untuk ikut memajukan bangsa Indonesia
  7. Mengisi dengan lengkap registrasi online
  8. Bagi yang lulus seleksi Beasiswa Tanoto Foundation tidak diperkenankan menerima beasiswa dari institusi lain

Senin, 12 Desember 2011

Biografi Emile Durkheim



Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis 15 April 1858. Ia keturunan pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis (Mestrovic, 1988). Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan masalah kesusastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski kita tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris.
Hasratnya terhadap ilmu makin besar ketika dalam perjalanannya ke Jerman ia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt (Durkheim, 1887/1993). Beberapa tahun sesudah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan sejumlah buku diantaranya adalah tentang pengalamannya selama di Jerman (R. Jones, 1994). Penerbitan buku itu membantu Durkheim mendapatkan jabatan di Jurusan Filsafat Universitas Bordeaux tahun 1887. DI sinilah Durkheim pertama kali memberikan kuliah ilmu sosial di Universitas Perancis. Ini adalah sebuah prestasi istimewa karena hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan meledak di Universitas Perancis karena nama Auguste Comte muncul dalam disertasi seorang mahasiswa. Tanggung jawab utama Durkheim adalah mengajarkan pedagogik di sekolah pengajar dan kuliahnya yang terpenting adalah di bidang pendidikan moral. Tujuan instruksional umum mata kuliahnya adalah akan diteruskan kepada anak-anak muda dalam rangka membantu menanggulangi kemerosotan moral yang dilihatnya terjadi di tengah masyarakat Perancis.
Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh serentetan kesuksesan pribadi. Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktornya, The Devision of Labor in Society dalam bahasa Perancis dan tesisnya tentang Montesquieu dalam bahasa Latin (W. Miller, 1993). Buku metodologi utamanya, The Rules of Sociological Method, terbit tahun 1895 diikuti (tahun 1897) oleh hasil penelitian empiris bukunya itu dalam studi tentang bunuh diri. Sekitar tahun 1896 ia menjadi profesor penuh di Universitas Bordeaux. Tahun 1902 ia mendapat kehormatan mengajar di Universitas di Perancis yang terkenal, Sorbonne, dan tahun 1906 ia menjadi profesor ilmu sangat terkenal lainnya, The Elementary Forins of Religious Life, diterbitkan pada tahun 1912.
Kini Durkheim sering dianggap menganut pemikiran politik konservatif dan pengaruhnya dalam kajian sosiologi jelas bersifat konservatif pula. Tetapi dimasa hidupnya ia dianggap berpikiran liberal dan ini ditunjukkan oleh peran publik aktif yang dimainkannya dalam membela Alfred Drewfus, seorang kapten tentara Yahudi yang dijatuhi hukuman mati karena penghianatan yang oleh banyak orang dirasakan bermotif anti-yahudi (Farrel, 1997).
Durkheim merasa sangat terluka oleh kasus Dreyfus itu, terutama oleh pandangan anti-Yahudi yang melatarbelakangi pengadilannya. Namun Durkheim tidak mengaitkan pandangan anti-Yahudi ini dengan rasialisme di kalangan rakyat Perancis. Secara luas ia melihatnya sebagai gejala penyakit moral yang dihadapi masyarakat Perancis sebagai keseluruhan (Bimbaum dan Todd, 1995). Ia berkata :
Bila masyarakat mengalami penderitaan maka perlu menemukan seorang yang dapat dianggap bertanggung jawab atas penderitaannya itu. Orang yang dapat dijadikan sebagai sasaran pembalasan dendam atas kemalangannya itu, dan orang yang menentang pendapat umum yang diskriminatif, biasanya ditunjuk sebagai kambing hitam yang akan dijadikan korban. Yang meyakinkan saya dalam penafsiran ini adalah cara-cara masyarakat menyambut hasil pengadilan Dreyfus 1894. keriangan meluap di jalan raya.  Rakyat merayakan kemenangan atas apa yang telah dianggap sebagai penyebab penderitaan umum. Sekurang-kurangnya mereka tahu siapa yang harus disalahkan atas kesulitan ekonomi dan kebejatan moral yang terjadi dalam masyarakat mereka; kesusahan itu berasal dari Yahudi. Melalui fakta ini juga segala sesuatu telah dilihat menjadi bertambah baik dan rakyat merasa terhibur (Lukes, 1972:345).
Perhatian Durkheim terhadap perkara Dreyfus berasal dari perhatiannya yang mendalam seumur hidupnya terhadap moralitas modern. Menurut Durkheim, jawaban atas perkara Dreyfus dan krisis moral seperti itu terletak di akhir kekacauan moral dalam masyarakat. Karena perbaikan moral itu tak dapat dilakukan secara cepat dan mudah, Durkheim menyarankan tindakan yang lebih khusus, seperti menindak tegas orang yang mengorbankan rasa benci terhadap orang lain dan pemerintah harus berupaya menunjukkan kepada publik bahwa menyebarkan rasa kebendaan itu adalah perbuatan menyesatkan dan terkutuk. Ia mendesak rakyat agar “mempunyai keberanian untuk secara lantang menyatakan apa yang mereka pikirkan dan bersatu untuk mencapai kemenangan dalam perjuangan menentang kegilaan publik (Lukas, 1972:347).
Tetapi minat Durkheim terhadap sosialisme juga dijadikan bukti bahwa ia menentang pemikiran yang menganggapnya seorang konservatif, meski jenis pemikiran sosialismenya sangat berbeda dengan pemikiran Marx dan pengikutnya. Durkheim sebenarnya menamakan Marxisme sebagai “seperangkat hipotesis yang dapat dibantah dan ketinggalan zaman” (Lukes, 1972:323). Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan gerakan yang diarahkan pada pembaharuan moral masyarakat melalui moralitas ilmiah dan ia tak tertarik pada metode politik jangka pendek atau pada aspek ekonomi dari sosialisme. Ia tak melihat proletariat sebagai penyelamat masyarakat dan ia sangat menentang agitasi atau tindak kekerasan. Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan sebuah sistem dimana didalamnya prinsip moral ditemukan melalui studi sosiologi ilmiah di tempat prinsip moral itu diterapkan.
Durkheim berpengaruh besar dalam pembangunan sosiologi, tetapi pengaruhnya tak hanya terbatas di bidang sosiologi saja. Sebagian besar pengaruhnya terhadap bidang lain tersalur melalui jurnal L’annee Sociologique yang didirikannya tahun 1898. Sebuah lingkaran intelektual muncul sekeliling jurnal itu dan Durkheim berada dipusatnya. Melalui jurnal itu, Durkheim dan gagasannya mempengaruhi berbagai bidang seperti antropologi, sejarah, bahasa dan psikologi yang agak ironis, mengingat serangannya terhadap bidang psikologi.
Durkheim meninggal pada 15 November 1917 sebagai seorang tokoh intelektual Perancis tersohor. Tetapi, karya Durkheim mulai memengaruhi sosiologi Amerika dua puluh tahun sesudah kematiannya, yakni setelah terbitnya The Structure of Social Action (1973) karya Talcott Parsons.